Manusia adalah makhluk sosial yang
tidak bisa hidup sendirian, selalu membutuhkan bantuan orang lain. Meskipun
secara fisik mereka bisa hidup sendirian tapi secara psikologis mereka masih
membutuhkan orang lain untuk keberadaannya. Dalam berhubungan dengan orang lain
tidaklah mengenal tempat dan waktu. Dimanapun berada dapat terjadi hubungan.
Dalam berhubungan dengan orang lain, ada orang yang mudah bergaul dan ada yang
sulit bergaul alias kuper atau kurang pergaulan. Terlebih dulu kita bahas
tentang apa sih pergaulan itu? Pergaulan ialah proses interaksi yang
dilakukan oleh individu dengan individu atau individu dengan kelompok. Seperti
yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia sebagai makhluk sosial
(zoon-politicon), yang artinya manusia sebagai makhluk sosial yang tak lepas
dari kebersamaan dengan manusia lain. Pergaulan mempunyai pengaruh yang besar
dalam pembentukan kepribadian seorang individu.
Ada
2 tipe kepribadian pada manusia, yaitu introvert dan ekstrovert. Seorang yang
ekstrovert ialah orang yang mempunyai bakat bergaul, yang menyukai keramaian
dan suka berteman dengan banyak orang, sedangkan orang yang introvert ialah orang
yang mengasingkan diri dan menjauhkan diri dari pergaulan. Orang-orang semacam
itu hanya sedikit mempunyai teman, yang paling mereka senangi adalah mengunci
diri di kamar untuk membaca dan menonton TV, mereka lebih menyukai
kesendiriannya dari pada berkumpul-kumpul dengan teman-temannya.
Sedangkan orang yang sulit bergaul alias
kuper atau kurang pergaulan ialah orang yang malu dan hanya senang berteman
dengan orang yang sudah lama dikenalnya. Mereka tidak senang menjadi anggota
perkumpulan bridge atau klub apapun. Dan kalau harus berteman dengan orang yang
belum dikenalnya, mereka merasa malu dan tegang.
Dari sekian masalah
yang harus kita hadapi dalam hidup ini, kesulitan dalam bergaul adalah salah
satunya. Bagi yang kebetulan sedang menghadapi masalah ini, mungkin ada dua hal
yang perlu diingat:
Pertama, pergaulan
itu erat kaitannya dengan kemampuan. Kemampuan di sini artinya bukan hasil
bawaan dari lahir tetapi merupakan kapabilitas yang diraih dari usaha dalam
mengembangkan diri. Jadi, apapun kepribadian anda, pada dasarnya anda punya
kesempatan yang sama untuk bergaul seperti juga orang lain yang punya model
kepribadian lain.
Wajar-wajar saja,
sah-sah saja jika ada orang yang berkata “saya kan orangnya introvert, jadi
saya tidak mudah bergaul, sedangkan dia kan ekstrovert jadi dia mudah bergaul
dengan siapa saja, dan bla bla bla,,,”. Tapi ada satu hal yang perlu diingat
bahwa dunia ini tidak peduli dengan apakah kita termasuk orang berkepribadian
ini itu dan itu ini. Dunia ini hanya tahu satu hal: kalau kita mengalami
kesusahan bergaul, hidup kita juga mengalami kesusahan yang tidak kita
inginkan. TITIK. Ini adalah sebuah dalil mengapa kita perlu mengembangkan
potensi yang mendukung perbaikan kemampuan kita dalam bergaul, terlepas apapun
model kepribadian kita.
Apapun model
kepribadian kita tentu ada sisi negative dan positivenya. Oleh karena itu sisi
positive itu harus kita kembangkan untuk memperbaiki hidup kita dan sisi
negative harus kita control supaya tidak merugikan orang lain.
Kedua, pergaulan itu
tidak identik dengan banyak ngomong atau sedikit ngomong, tidak identik dengan
apakah anda seorang pendiam atau tidak pendiam. Tapi pergaulan itu bagaimana
kita berkomunikasi dengan orang lain dan bagaimana kita menjaga hubungan itu. Karenanya,
jangan heran bila menjumpai orang yang banyak ngomong tetapi
pergaulannya sempit dan jangan heran pula bila melihat orang yang sedikit ngomong
tetapi pergaulannya luas.
Inilah penyebab kurang pergaulan dan juga
cara mengatasinya:
1.
Hasil didikan orang tua yang selalu melarangnya
Biasanya anak yang dididik
seperti ini cenderung penakut, tidak berani bertindak, karena jika dia
melakukan sesuatu yang baru dia takut dimarahi dan dilarang. Dia lebih baik
berdiam diri dan tidak mau berbuat apa-apa dari pada terkena marah.
Cara mengatasi anak seperti
ini ialah dengan bergaul dengan seseorang yang pemberani dan bersemangat dalam
hidupnya, supaya bisa tertular. Kita juga bisa mengikuti organisasi atau
komunitas-komunitas lainnya.
2.
Terlalu memikirkan diri sendiri
Hal ini bisa mengganggu
kelancaraan saat sedang berbicara / berdialog dengan orang lain. Ketika sedang
berbicara dengan orang lain, jangan memikirkan bagaimana sepatu anda, bagaimana
rambut anda, bagaimana cara duduk anda, bagaimana seluler anda, dan seterusnya.
Atau juga jangan mengembangkan asumsi seperti misalnya: bagaimana orang lain
menilai kostum saya, dan sejumlah “bagaimana” yang lain. Ini kerap bisa membuat
konsentrasi anda bukan pada pembicaraan, tetapi kepada diri sendiri. Kalau Anda
sedikit-sedikit melihat ke diri sendiri, mungkin anda akan kehilangan momen
untuk menghangatkan suasana.
Jadi cara mengatasinya ialah
fokuskan pada bagaimana menciptakan suasana supaya bisa menjadi hidup, bukan
memikirkan diri sendiri. Ciptakan kehangatan dalam berdialog. Trus bagaimana
caranya? Yaitu dengan mendengarkan dan mengungkapkan dan memunculkan humor atau
guyonan yang mendukung.
Itulah secuil tentang Kuper
alias kurang pergaulan. Jangan menutup diri anda pada sesuatu hal yang positive,
hargailah pendapat dan karakter orang. Perlihatkan kelebihan anda dan
kembangkan potensi anda. Taburkan sesuatu yang positive kepada semua orang maka
orang lain yang akan menghampiri anda.

