Selasa, 24 November 2020

REMAJA JUGA SEBAGAI MAKHLUK TUHAN

 


A. Memahami Diri Sebagai Makhluk Tuhan

Tuhan menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat psikis. Manusia adalah puncak penciptaan makhluk Tuhan setelah jagad raya dan seisinya.

Manusia memiliki saya atomic dan daya mineral (tubuhnya terdiri dari atom-atom dan mineral).

Tumbuhan (nabati) memiliki daya nutrisik, yakni daya tumbuh (bertambah) dan daya reproduksi (berkembang biak). Daya ini dimiliki pula oleh manusia. Adapun hewan memiliki daya hewani yaitu daya penginderaan dan daya gerak (berpindah). Daya ini juga dimiliki oleh manusia.

Manusia merupakan jagad kecil karena seluruh yang ada di jagad ini baik daya atomic, daya mineral, daya nabati, daya hewani ada pada diri manusia. Ada daya yang hanya dipunyai oleh manusia yaitu daya akal atau daya rasional. Dengan akal pikiran manudia dapat mencari ilmu pengetahuan dan teknologi. Daya akal adalah hadiah terbesar dari Tuhan.

Berdasarkan kajian di atas, selayaknyalah manusia memiliki kewajiban sebagai makhluk ciptaan Tuhan untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bahkan Tuhan menciptakan manusia semata-mata untuk beribaha kepada-Nya sebagaimana firman Allah yang berbunyi: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

 

B. Arti Ibadah Bagiku

Beribadah kepada Tuhan perlu dibiasakan sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga. Di dalam lingkungan agama Islam dicontohkan membiasakan beribadah pada usia balita yaitu dengan memperkenalkan doa-doa sebelum melakukan kegiatan, contoh doa sebelum makan dan doa sebelum tidur. Pada usia 7 tahun anak harus sudah diperkenalkan wudhu dan shalat bahkan usia 9 tahun tidak menjalankan shalat boleh diukul bagian yang tidak berbahaya dengan maksud mendidik; tidak ada unsure kekerasan, tetapi menanamkan kedisiplinan. Hal ini dilakukan agar menjelang usia baligh (haid bagi wanita dan mimpi bagi pria) seorang anak diharapkan sudah mandiri menjalankan shalat dan sudah menjadi kebiasaan beribadah rutin dan teratur.

Tanpa melalui pembiasaan seperti diatas, sulit bagi anak untuk menanamkan keteraturan shalat 5 waktu. Demikian juga dengan ibadah puasa perlu diajarkan sejak kecil sehingga anak tidak merasa terbebani dimana rutinitas ibadah menjadi tindakan spontanitas yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari, jauh dari rasa keterpaksaan.

 

C. Mengembangkan Ilmu Agama yang Dianutnya

Segala ilmu yang ada di dunia ini berasal dan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa

1.  Ilmu Kauliah atau ilmu Sunnatullah

Yaitu ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang bersifat materi dan tampak gejala alamiah. Ilmu yang sudah pasti kebenarannya disebut hukum sedangkan ilmu yang belum pasti kebenarannya baru disebut persepsi.

Dari hukum kauliah atau hukum ala mini muncullah ilmu-ilmu seperti ilmu biologi, kimia, fisika, matematika, geografi, dan masih banyak lagi. makin hari ilmu kauliah terus berkembang sesuai dengan penemuan-penemuan hasil penelitian dan teknologi terkini.

2.  Ilmu Gaib atau ilmu spiritual atau ilmu agama.

Berbeda dengan ilmu kauliah, ilmu spiritual tidaklah tampak. Jika ilmu kauliah atau ilmu alam bisa dipelajari melalui penelitian manusia, maka ilmu spiritual bukan hasil dari penelitian manusia tetapi langsung diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk wahyu (Kitab Suci) yang diterima oleh para utusan Tuhan yaitu Nabi untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia di dunia sebagai pedoman selama hidupnya agar mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Hukum alam (sunnatullah) dan hukum agama (spiritual) bersifat absolute atau mutlak dan keduanya tidak saling berbenturan atau bertentangan.