A. Memahami Diri Sebagai
Makhluk Tuhan
Tuhan menciptakan
manusia dengan segala kesempurnaannya baik yang bersifat fisik maupun yang
bersifat psikis. Manusia adalah puncak penciptaan makhluk Tuhan setelah jagad
raya dan seisinya.
Manusia memiliki
saya atomic dan daya mineral (tubuhnya terdiri dari atom-atom dan mineral).
Tumbuhan (nabati)
memiliki daya nutrisik, yakni daya tumbuh (bertambah) dan daya reproduksi
(berkembang biak). Daya ini dimiliki pula oleh manusia. Adapun hewan memiliki
daya hewani yaitu daya penginderaan dan daya gerak (berpindah). Daya ini juga
dimiliki oleh manusia.
Manusia merupakan
jagad kecil karena seluruh yang ada di jagad ini baik daya atomic, daya
mineral, daya nabati, daya hewani ada pada diri manusia. Ada daya yang hanya
dipunyai oleh manusia yaitu daya akal atau daya rasional. Dengan akal pikiran
manudia dapat mencari ilmu pengetahuan dan teknologi. Daya akal adalah hadiah
terbesar dari Tuhan.
Berdasarkan kajian
di atas, selayaknyalah manusia memiliki kewajiban sebagai makhluk ciptaan Tuhan
untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bahkan
Tuhan menciptakan manusia semata-mata untuk beribaha kepada-Nya sebagaimana
firman Allah yang berbunyi: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
B. Arti Ibadah Bagiku
Beribadah kepada
Tuhan perlu dibiasakan sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga. Di dalam
lingkungan agama Islam dicontohkan membiasakan beribadah pada usia balita yaitu
dengan memperkenalkan doa-doa sebelum melakukan kegiatan, contoh doa sebelum
makan dan doa sebelum tidur. Pada usia 7 tahun anak harus sudah diperkenalkan
wudhu dan shalat bahkan usia 9 tahun tidak menjalankan shalat boleh diukul
bagian yang tidak berbahaya dengan maksud mendidik; tidak ada unsure kekerasan,
tetapi menanamkan kedisiplinan. Hal ini dilakukan agar menjelang usia baligh
(haid bagi wanita dan mimpi bagi pria) seorang anak diharapkan sudah mandiri
menjalankan shalat dan sudah menjadi kebiasaan beribadah rutin dan teratur.
Tanpa melalui
pembiasaan seperti diatas, sulit bagi anak untuk menanamkan keteraturan shalat
5 waktu. Demikian juga dengan ibadah puasa perlu diajarkan sejak kecil sehingga
anak tidak merasa terbebani dimana rutinitas ibadah menjadi tindakan
spontanitas yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari, jauh dari rasa keterpaksaan.
C. Mengembangkan Ilmu Agama
yang Dianutnya
Segala ilmu yang
ada di dunia ini berasal dan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa
1. Ilmu Kauliah atau ilmu
Sunnatullah
Yaitu ilmu yang mempelajari tentang
hal-hal yang bersifat materi dan tampak gejala alamiah. Ilmu yang sudah pasti
kebenarannya disebut hukum sedangkan ilmu yang belum pasti kebenarannya baru
disebut persepsi.
Dari hukum kauliah atau hukum ala
mini muncullah ilmu-ilmu seperti ilmu biologi, kimia, fisika, matematika,
geografi, dan masih banyak lagi. makin hari ilmu kauliah terus berkembang
sesuai dengan penemuan-penemuan hasil penelitian dan teknologi terkini.
2. Ilmu Gaib atau ilmu
spiritual atau ilmu agama.
Berbeda dengan ilmu kauliah, ilmu
spiritual tidaklah tampak. Jika ilmu kauliah atau ilmu alam bisa dipelajari
melalui penelitian manusia, maka ilmu spiritual bukan hasil dari penelitian
manusia tetapi langsung diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk wahyu
(Kitab Suci) yang diterima oleh para utusan Tuhan yaitu Nabi untuk disampaikan
kepada seluruh umat manusia di dunia sebagai pedoman selama hidupnya agar
mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Hukum alam (sunnatullah) dan hukum
agama (spiritual) bersifat absolute atau mutlak dan keduanya tidak saling
berbenturan atau bertentangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar