EQ
(EMOTIONAL QUOTIENT)
Penelitian mutakhir
menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual (potensi intelektual) belumlah cukup menunjang
keberhasilan hidup seseorang. IQ hanya menyumbangkan 20% keberhasilan seseorang,
sedangkan 80% nya ditunjang berdasarkan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual
dan kecerdasan adversity.
Kecerdasan emosi
adalah kemampuan untuk mengenal perasaan sendiri dan perasaan orang lain,
kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dengan baik dan
mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain.
Steven J Stein
dsn Howard E. Book pada tahun 2002 menyatakan EQ bisa disebut street smart atau
kemampuan yang disebut akal sehat. Logika tanpa Nurani tidak akan menghasilkan apapun
demikian juga sebaliknya. Kerjasama antara Nurani dan logika akan menghasilkan apa
yang dinamakan AKAL.
Goleman pakar
EQ berpendapat bahwa meningkatkan kwalitas EQ sangat berbeda dengan IQ. Kemampuan
murni IQ relative tidak berubah. Sedangkan kecakapan EQ dapat dipelajari kapan saja.
Untuk dapat menguasai kecakapan emosi dan untuk meningkatkan kecerdasan emosi dapat
dilakukan dengan pelatihan sepanjang waktu.
Pengendalian Diri
Bertujuan untuk mencapai keberhasilan
dalam hidup yaitu dengan menyesuaikan diri dengan keadaan, mengintrospeksi diri
maupun lingkungan sehingga emosi hasrat/keinginan tidak begitu saja terpenuhi karena
masih ada hal lain yang lebih penting.
Tiga hal yang harus dikendalikan
adalah:
1.
Pengendalian suasana hati
Mengendalikan hati berarti
selalu membersihkan hati untuk senantiasa bersyukur, rendah hati, kasih sayang
dan optimis.
2.
Pengendalian pikiran/visi
Pengendalian pikiran dapat
dilakukan dengan melihat isi pikiran kita apakah dipenuhi dengan diri sendiri
(egois), harta (materialistis) atau selalu berpikir dengan berbagai aspek
(global)
3.
Pengendalian nafsu/Hasrat
Maslow menyebutkan bahwa
motif-motif yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku adalah keinginan memuaskan
kebutuhan.
Maslow menguraikan tentang
TEORI kebutuhan Manusia adalah sesuai tingkatan, yaitu:
Diagram Maslow adalah sebagai
berikut
SQ
(SPIRITUAL QUOTIENT)
Kecerdasan
spiritual adalah sumber yang mengilhami, melambungkan semangat dan mengikat diri
seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu. Sedangkan spiritual
adalah inti dan pusat diri sendiri.
Viktor Frankl
(psikolog) menyatakan bahwa pencarian manusia akan makna hidup merupakan motivasi
utamanya dalam hidup ini. Kearifan spiritual adalah sikap hidup arif dan bijak secara
spiritual yang cenderung mengisi lembaran hidup kita menjadi lebih bermakna dan
bijak, bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati
Nurani kita.
Menurut Dimitri Mahayana
ciri-ciri orang yang mempunyai SQ tinggi adalah sebagai berikut:
1.
Memiliki prinsip dan visi yang kuat
Prinsip adalah suatu kebenaran
yang hakiki dan fundamental berlaku secara universal bagi seluruh umat. Prinsip
merupakan pedoman berperilaku yang berupa nilai nilai yang permanent dan
mendasar.
Ada 3 prinsip utama bagi
orang yang spiritualnya tinggi, yakni:
a.
Prinsip kebenaran
Adalah
suatu yang paling nyata dalam kehidupan ini adalah kebenaran. Sesuatu yang
tidak benar tunggulah saatnya nanti pasti akan sirna
b.
Prinsip keadilan
Bagaimana
keadilan itu? Keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan hak yang
seharusnya diterima. Tidak mengabaikan, tidak mengurang-ngurangi.
c.
Prinsip kebaikan
Kebaikan
adalah memebrikan sesuatu lebih dari hak yang seharusnya
Visi adalah cara pandang
bagaimana memandang sesuatu dengan visi yang benar. Dengan visi kita bisa
melihat bagaimana sesuatu dengan apa adanya, jernih dari sumber kebenaran.
2.
Mampu melihat kesatuan dalam keanekaragaman
Para siswa menuntut
suasana belajar yang menyenangkan. Guru menginginkan semangat dan hasil belajar
yang optimal. Semua pihak berbeda tetapi sama-sama menginginkan kebaikan
3.
Mampu memaknai setiap sisi kehidupan
Semua yang terjadi dialam
raya ini ada maknanya. Semua keadilan pada diri kita dan lingkungan ada
hikmahnya, semua yang diciptakan ada tujuannya
4.
Mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan
dan penderitaan
Sejarah telah membuktikan,
bahwa semua orang besar atau orang sukses telah melewati lika liku dan ujian
besar juga.
Thomas Edison menjadi
sukses dan cemerlang dengan berbagai temuannya setelah melalui caci maki dan
kegagalan-kegagalan
J.J. Rousseau menjelaskan
jika tubuh banyak berada dalam kemudahan dan kesenangan, maka aspek jiwa akan
rusak. Orang yang tidak pernah mengalami kesulitan/sakit, jiwanya tidak pernah
tersentuh. Penderitaan dan kesulitanlah yang menumbuhkan dan mengembangkan
dimensi spiritual.
AQ
(ADVERSITY QUOTIENT)
Adalah kemampuan/kecerdasan
seseorang untuk dapat bertahan menghadapai kesulitan-kesulitan dan mampu
mengatasi tantangan hidup.
Mungkinkah anda mengikuti TANTANGAN
melawan KEBIASAAN yang ada, karena bila BERHASIL AQ anda akan tinggi.
