Selasa, 01 Juni 2021

EQ, SQ, dan AQ

 

EQ (EMOTIONAL QUOTIENT)

Penelitian mutakhir menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual (potensi intelektual) belumlah cukup menunjang keberhasilan hidup seseorang. IQ hanya menyumbangkan 20% keberhasilan seseorang, sedangkan 80% nya ditunjang berdasarkan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan kecerdasan adversity.

Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenal perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dengan baik dan mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain.

Steven J Stein dsn Howard E. Book pada tahun 2002 menyatakan EQ bisa disebut street smart atau kemampuan yang disebut akal sehat. Logika tanpa Nurani tidak akan menghasilkan apapun demikian juga sebaliknya. Kerjasama antara Nurani dan logika akan menghasilkan apa yang dinamakan AKAL.

Goleman pakar EQ berpendapat bahwa meningkatkan kwalitas EQ sangat berbeda dengan IQ. Kemampuan murni IQ relative tidak berubah. Sedangkan kecakapan EQ dapat dipelajari kapan saja. Untuk dapat menguasai kecakapan emosi dan untuk meningkatkan kecerdasan emosi dapat dilakukan dengan pelatihan sepanjang waktu.

 

Pengendalian Diri

Bertujuan untuk mencapai keberhasilan dalam hidup yaitu dengan menyesuaikan diri dengan keadaan, mengintrospeksi diri maupun lingkungan sehingga emosi hasrat/keinginan tidak begitu saja terpenuhi karena masih ada hal lain yang lebih penting.

Tiga hal yang harus dikendalikan adalah:

1.       Pengendalian suasana hati

Mengendalikan hati berarti selalu membersihkan hati untuk senantiasa bersyukur, rendah hati, kasih sayang dan optimis.

2.       Pengendalian pikiran/visi

Pengendalian pikiran dapat dilakukan dengan melihat isi pikiran kita apakah dipenuhi dengan diri sendiri (egois), harta (materialistis) atau selalu berpikir dengan berbagai aspek (global)

3.       Pengendalian nafsu/Hasrat

Maslow menyebutkan bahwa motif-motif yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku adalah keinginan memuaskan kebutuhan.

 

Maslow menguraikan tentang TEORI kebutuhan Manusia adalah sesuai tingkatan, yaitu:

Diagram Maslow adalah sebagai berikut




SQ (SPIRITUAL QUOTIENT)

Kecerdasan spiritual adalah sumber yang mengilhami, melambungkan semangat dan mengikat diri seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu. Sedangkan spiritual adalah inti dan pusat diri sendiri.

Viktor Frankl (psikolog) menyatakan bahwa pencarian manusia akan makna hidup merupakan motivasi utamanya dalam hidup ini. Kearifan spiritual adalah sikap hidup arif dan bijak secara spiritual yang cenderung mengisi lembaran hidup kita menjadi lebih bermakna dan bijak, bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati Nurani kita.

 

Menurut Dimitri Mahayana ciri-ciri orang yang mempunyai SQ tinggi adalah sebagai berikut:

1.       Memiliki prinsip dan visi yang kuat

Prinsip adalah suatu kebenaran yang hakiki dan fundamental berlaku secara universal bagi seluruh umat. Prinsip merupakan pedoman berperilaku yang berupa nilai nilai yang permanent dan mendasar.

Ada 3 prinsip utama bagi orang yang spiritualnya tinggi, yakni:

a.       Prinsip kebenaran

Adalah suatu yang paling nyata dalam kehidupan ini adalah kebenaran. Sesuatu yang tidak benar tunggulah saatnya nanti pasti akan sirna

b.      Prinsip keadilan

Bagaimana keadilan itu? Keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan hak yang seharusnya diterima. Tidak mengabaikan, tidak mengurang-ngurangi.

c.       Prinsip kebaikan

Kebaikan adalah memebrikan sesuatu lebih dari hak yang seharusnya

Visi adalah cara pandang bagaimana memandang sesuatu dengan visi yang benar. Dengan visi kita bisa melihat bagaimana sesuatu dengan apa adanya, jernih dari sumber kebenaran.

2.       Mampu melihat kesatuan dalam keanekaragaman

Para siswa menuntut suasana belajar yang menyenangkan. Guru menginginkan semangat dan hasil belajar yang optimal. Semua pihak berbeda tetapi sama-sama menginginkan kebaikan

3.       Mampu memaknai setiap sisi kehidupan

Semua yang terjadi dialam raya ini ada maknanya. Semua keadilan pada diri kita dan lingkungan ada hikmahnya, semua yang diciptakan ada tujuannya

4.       Mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan penderitaan

Sejarah telah membuktikan, bahwa semua orang besar atau orang sukses telah melewati lika liku dan ujian besar juga.

 

Thomas Edison menjadi sukses dan cemerlang dengan berbagai temuannya setelah melalui caci maki dan kegagalan-kegagalan

J.J. Rousseau menjelaskan jika tubuh banyak berada dalam kemudahan dan kesenangan, maka aspek jiwa akan rusak. Orang yang tidak pernah mengalami kesulitan/sakit, jiwanya tidak pernah tersentuh. Penderitaan dan kesulitanlah yang menumbuhkan dan mengembangkan dimensi spiritual.

 

 

AQ (ADVERSITY QUOTIENT)

Adalah kemampuan/kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapai kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup.

Mungkinkah anda mengikuti TANTANGAN melawan KEBIASAAN yang ada, karena bila BERHASIL AQ anda akan tinggi.